“Sereceh Sparco Part 1”


Kadang nggak pernah sadar, ketika ngereceh adalah salah satu aktivitas menarik dan menghibur. Terlebih ketika penat sedang melanda, pikiran sedang berada kemana-mana karena bukan hanya satu yang dipikirkan melainkan banyak. Dan ketika diri harus berperan menjadi seoarang yang memiliki keuatan super bertalent multi alias multi talent. Wahh... seperti segalanya sudah terkendali oleh satu orang.
Suatu hari si Odhi alias mbah Sparco (panggilan) SMA karena ketika pada saat itu ia salah menyebutkan sebuah merk snack atau jajanan. Kala itu adalah ketika perkenalan di kelas baru MOS (Masa Orientasi Siswa), tepatnya di kelas X-2. Ketika perkenalan dan sudah mualai memasuki hobi, ia dengan santainya mengatakan “.... hobi saya adalah makan, makan sparco misalnya.” Seketika teman sekelas hening dan menatap si Odhie dengan sedikit keheranan dan penasaran. Karena semua sebelumya belum pernah mendengar yang namanya jajan sparco. Dengan sedikit kebingungan dan sudah kehabisan kata Odhi pun juga terdiam. Sehingga disahutlah oleh kakak pendamping yang sebelumnya juga sedikit keheranan dan bingung dengan nama jajan yang disebutkan Odhi. Kemudian Odhi dipersilahkan duduk kembali.
Sembari kembali duduk, Odhi pun berpikiran “.... Apa kira-kira aku tadi salah sebut ya.” Tatapan hangat sedikit mendelisik pun langsung dihadapkan oleh teman sebangku Odhi, “Heii.. Odhi perasaan selama ini aku belum pernah mendengar makanan yang namanya sparco. Emang itu makanan jenis apa ?” “Lahhh... masak kamu nggak tau ? Itu lo sejenis biskuit berlapis yang tengahnya ada coklatnya. Ntar deh kalo udah pulang searching di warnet.” Iya karena pada saat itu hp untuk internet masing sangat jarang, sinyal paling bagus pun masih 3G.
Keesokan harinya teman sebangku Odhi, si Hendrik tertawa terpingkal-pingkal ketika bertemu dengan Odhi sambil membawa secarik kertas HVS yang terlihat ada gambarnya. Kertas tersebut berisi gambar sebuah jok mobil beserta setir mobil balap yang bertuliskan sparco. “... Jadi ini hoby kamu, nyemilin jok sama setir mobil. Hebat bener kamu ya..” celetuk Hendrik sembari memukul pundak Odhi dan memberikan kertas HVS tadi. Dengan cukup terkaget Odhi melihat kertas tersebut sembari merenung, “Lhahh.. terus jajan kesukaanku dulu itu namanya apa dong, kalo bukan sparco.” Ketika perenungan Odhi belum selesai, bel tanda masuk kelas pun berbunyi.
Untuk pembiasaan pagi selalu di awali dengan mengaji bersama yang dikomando dari kantor dan disalurkan melalui speaker yang dipasang disetiap kelas ditambah dengan speaker yang berada di luar kelas. Speaker tersebut terpasang di setiap sudut sekolah, yaa... untuk berjaga-jaga jikalau suatu saat ada problem speaker yang terpasang di kelas. Ketika mengaji bersama hendak akan dimulai kakak pendamping MOS pun datang dan duduk di depan kelas. Mengawasi para siswa baru, bukan malah mengikuti ngaji bersama. Ya husnudhon kita mah mungkin lagi berhalangan, karena kebetulan kakak pendamping kelas kita adalah cewek.
Tanpa terasa jam istirahat pun berbunyi, Odhi dan Hendrik segera bergegas pergi ke kantin karena perut kita yang sedari pagi kosong telah meronta-ronta. Yaa.. karena kita tak mau telat masuk, kita merelakan sarapan pagi dan berangkat pagi-pagi buta. Rumah kami pun jika dikira-kira hampir sama jaraknya dengan sekolah kita sekarang, sekitar kurang lebih 13 km.
Dalam perjalanan ke kantin, kita dikintilin  (baca:diikuti) oleh seorang cewek yang belum pernah kita kenal sebelumnya. Ketika sampai di kantin dia merasa kebingungan dan sedikit kikuk untuk melangkah. Entah, dengan reflek SKSD (Sok Kenal Sok Deket), Odhi coba menanyainya, “Mbak, mau beli makanan juga ?” Cewek tersebut mengangguk pelan, tanpa membalas suara. Otomatis, ya Odhi tanya balik, “Mbak mau beli apa ? Kok kelihatannya bingung gitu. Ntar tinggal masuk aja ke pintu masuk kantin itu, terus milih mau beli apa, kemudian ambil. Terus ntar bayarnya di kasir. Ada ibu-ibu kasir ntar di sana. Ada tulisannya KASIR besar gitu ntar di atas meja.” “Ohh.. gitu, okee. Makasih.” Sambil berjalan, berbalik arah dan seperti mau kembali ke kelas. “Lohh... mbak, mbak.. salah jalan. ndak jadi beli makanan to ?” Sahut Odhi dengan sedikit heran. “Nggak jadi, aku ternyata nggak laper.” Sembari berjalanan semakin jauh tanpa menoleh lagi ke arah Odhi.
Tanpa terasa MOS pun usai, yaa.. kurang lebih kalau dihitung hari ada 5 hari. 2 hari untuk pra MOS dan 3 hari untuk MOS nya. Kegiatan pembelajaran pun akan kembali pada seperti biasanya bebarengan dengan seluruh siswa kelas XI dan XII yang mulai kembali masuk sekolah. Setelah disibukkan dengan suka duka MOS, Odhi pun kembali teringat pada satu cewek yang pernah ngikuti dia dan Hendrik dulu pas mau ke kantin. Dengan cukup penasaran Odhi pun langsung menghampiri kelas Hendrik ketika bel istirahat berbunyi, dan kebetulan setelah MOS kelas mereka berbeda. Odhi tetap di kelas X-2, sedangkan Hendrik berada di kelas X-3 satu masih dalam satu bangunan, tapi beda lantai karena kelas X-1 dan X-2 berada di lantai 2 sedangkan X-3 dan X-4 berada di lantai 1. “Hendrikk... Ohh.. Hendrikk... Hendrikk... yuhuuu..” Odhi memanggil Hendrik seperti nada memanggil di kartun Upin Ipin. “Paan sihh, ehh.. Turun sini ngapa..” Sahut Hendrik yang seketika langsung keluar kelas. “Hihihihi...” “Malah, nyengir pula kau. Sini turun..” “Okee.”
Ketika Odhi telah sampai di depan Hendrik. Ia pun langsung menceritakan mengenai cewek yang pernah ngikuti mereka dulu. Dan seketika Odhi pun langsung mengajak Hendrik untuk mencari kelasnya dengan berkeliling-keliling. Tapi, terlebih dahulu mereka ke kantin karena mereka sependapat jika jam-jam istirahat pasti banyak siswa yang bertaburan pergi ke kantin. Dan tepat setelah melangkahkan kaki beberapa langkah, mereka berdua merasa ada yang mengikuti dari belakang mereka. Dengan reflek tanpa berdialog dan bersepakat sebelumnya mereka secara bersamaan menoleh ke arah belakang. “Lohh.. kamu!” Dengan reflek serentak dan cukup terkaget mereka berdua berucap. “Hihihi...” Senyuman kecil nan tipis pun dibalasnya.

Komentar